Penulis: Asyafa’ati Inayah | Kelas: 4B

Di pagi yang cerah, Clara terbangun dengan semangat. “Huah…,” ia meregangkan tubuhnya.
“Sudah bangun, Clara?” tanya Bunda dari dapur.
“Sudah, Bunda,” jawab Clara sambil merapikan tempat tidurnya.
“Kalau begitu, segera bereskan tempat tidurmu. Sarapanmu sudah Bunda taruh di meja, ya. Bunda mau ke pasar dulu, uang sakumu juga di meja.”
“Baik, Bunda. Hati-hati di jalan,” ujar Clara sebelum bersiap mandi dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, Clara menyapa riang, “Selamat pagi semua!”
Roma dan Ara menjawab hampir bersamaan, “Selamat pagi, Clara!”
Clara menoleh ke sekeliling, “Eh, Andre belum datang, ya?”
“Belum,” kata Roma. “Yang datang baru kita bertiga.”
Ara menambahkan, “Mungkin dia mampir ke rumah Aries dulu.”

Tak lama kemudian, Bu Tasya datang dan menyapa murid-muridnya. “Selamat pagi, anak-anak.”
“Selamat pagi, Bu Tasya,” jawab mereka serempak.
Roma segera berkata, “Bu, Andre dan Aries belum datang.”
“Oh iya,” jawab Bu Tasya, “ibu mereka sudah memberi tahu Ibu. Mereka tidak bisa masuk karena sedang mengikuti lomba memanah.”

“Wah, jadi itu hobi mereka ya, Bu?” tanya Roma.
“Iya, benar. Bagaimana dengan kalian, apa hobi kalian?” tanya Bu Tasya sambil tersenyum.
Roma menjawab dengan semangat, “Saya suka bermain sepak bola, Bu!”
“Aku hobinya melukis, Bu,” kata Ara. “Aku ingin menjadi pelukis terkenal suatu hari nanti.”
“Kalau Clara?” tanya Bu Tasya.

Clara berpikir sejenak lalu menjawab, “Hobiku membantu orang sakit, Bu.”
“Memang cita-cita kamu apa, Clara?” tanya Bu Tasya lagi.
“Cita-citaku ingin menjadi dokter, Bu.”
Bu Tasya tersenyum lembut. “Sebenarnya, membantu orang sakit itu lebih cocok disebut perbuatan baik, bukan hobi. Tapi itu hal yang sangat mulia, Clara.”
Clara mengangguk pelan. “Oh, begitu ya, Bu…”

Roma lalu berseru sambil tertawa kecil, “Berarti Clara nggak punya hobi, dong? hahaha”
Bu Tasya segera menegur, “Tidak boleh begitu, Roma. Kita harus saling menghargai teman, apa pun perbedaan mereka.”
Roma pun menunduk malu. “Maaf ya, Clara, aku sudah mengejekmu.”
Clara tersenyum. “Tidak apa-apa, Roma. Aku sudah memaafkanmu.”

Setelah pelajaran selesai, Clara duduk di bawah pohon di halaman sekolah sambil berpikir. Ia tersenyum kecil dan berkata dalam hati, “Mungkin aku belum tau apa hobiku, tapi aku tahu apa yang membuatku bahagia—membantu orang lain. Dan kalau aku terus belajar dengan sungguh-sungguh, suatu hari aku bisa jadi dokter dan menolong banyak orang.”

Melihat Clara termenung, Ara dan Roma datang menghampiri. “Clara, ayo main kasti bareng!” ajak Roma.
Clara tertawa, “Boleh juga! Siapa tahu nanti hobiku jadi olahraga juga.”
Mereka pun bermain bersama sambil tertawa gembira. Hari itu, Clara belajar bahwa setiap orang memiliki hobi dan cita-cita masing-masing, dan semuanya berharga selama dilakukan dengan hati yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Informasi Pendaftaran

Bergabunglah bersama MI Muhammadiyah Karan dan menjadi bagian dari generasi berprestasi.

Kategori

Postingan Terbaru

  • All Posts
  • Berita Sekolah
  • Blog
  • Karya Siswa
    •   Back
    • Cerpen
    • Puisi
    • Gambar
    • Proyek
    •   Back
    • Pengumuman
    • Kegiatan
    • Event

Tag

Informasi Kontak

Informasi alamat dan layanan komunikasi MIM Karan.

Edit Template

About Our School

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis.

About School

About Us

Services

Community

Testimonial

Help Centre

Quick Links

Classes

Events

Programs

Become Teacher

Contact Us

© 2024 MIKAGO