Karanganyar – Di tengah keterbatasan peralatan dan tantangan teknis yang terus menghampiri, Tim Robotika MI Muhammadiyah Karan (MIM Karan) kembali membuktikan konsistensinya di bidang teknologi. Pada ajang MADAGASKAR (Madagascar Robotic Fair 2026) yang diselenggarakan di SMK Muhammadiyah 1 Gondangrejo, tim robot soccer MIM Karan berhasil meraih Juara III kategori Robot Soccer. Prestasi tersebut diraih oleh pasangan siswa Aska Pradipta Sulistyo (Kelas IV B) dan Galih Saputra (Kelas III A) setelah melalui serangkaian pertandingan yang menguji ketepatan, strategi, serta kemampuan robot dalam merespons kondisi lapangan secara otomatis. Konsisten Berprestasi di Tengah Keterbatasan Bagi MIM Karan, prestasi di kategori Robot Soccer bukanlah hal baru. Dalam berbagai kompetisi robotika yang diikuti selama beberapa tahun terakhir, tim robot soccer MIM Karan hampir selalu berhasil membawa pulang penghargaan. Menariknya, konsistensi tersebut justru diraih dengan peralatan yang tidak lagi tergolong baru. Robot yang digunakan sering mengalami kendala teknis, baik saat latihan maupun ketika pertandingan berlangsung. Tidak jarang tim harus melakukan perbaikan mendadak beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Bahkan saat kompetisi berlangsung, performa robot terkadang tidak selalu berjalan sesuai harapan akibat berbagai error yang muncul secara tiba-tiba. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para siswa untuk terus berlatih dan berkompetisi. “Mungkin ini sudah saatnya untuk upgrade robot,” ujar Muchlis Nur Angga, guru pembina Robotika MIM Karan. “Namun hingga saat ini biaya masih menjadi salah satu kendala yang harus kami pertimbangkan.” Tiga Tim Dikirimkan ke Ajang MADAGASKAR Pada kompetisi tahun ini, MIM Karan mengirimkan total tiga tim, terdiri dari dua tim Robot Soccer dan satu tim Robot MakeBlock. Selain tim peraih Juara III yang beranggotakan Aska Pradipta Sulistyo dan Galih Saputra, MIM Karan juga menurunkan tim Robot Soccer lainnya yang diperkuat oleh Iqbal Adrian Pradipta (IV B) dan Rozaki Anggit Ghamara (III B). Keikutsertaan dua tim sekaligus menunjukkan komitmen sekolah dalam memberikan kesempatan lebih luas kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang robotika dan teknologi. Pengalaman Pertama di Kategori MakeBlock Selain Robot Soccer, MIM Karan juga untuk pertama kalinya mengikuti kategori Robot MakeBlock melalui pasangan Abyzar Nara Al Ghifari (III A) dan Danendra Hyuga Pratama (III B). Berbeda dengan Robot Soccer yang lebih banyak mengandalkan pengaturan sensor dan strategi permainan, kategori MakeBlock menuntut peserta untuk memahami logika pemrograman berbasis block coding serta menyelesaikan berbagai misi secara berurutan. Proses persiapan kategori ini tidak selalu berjalan mudah. Kedua siswa beberapa kali merasa kesulitan memahami alur logika pemrograman yang digunakan dalam robot. Bahkan pada beberapa kesempatan mereka sempat merasa frustrasi dan ingin menyerah ketika robot tidak bergerak sesuai instruksi yang telah dibuat. Tantangan lain datang dari keterbatasan sarana. Robot yang digunakan dalam kategori ini bukan milik MIM Karan, melainkan pinjaman dari sekolah lain agar siswa tetap dapat mengikuti kompetisi. Namun semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi membuat keduanya terus berusaha hingga hari perlombaan tiba. Meskipun belum berhasil meraih podium, pengalaman pertama tersebut memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Tim MakeBlock MIM Karan mampu menyelesaikan sekitar 70 persen misi yang diberikan panitia, sebuah capaian yang cukup baik untuk debut pertama di kategori tersebut. Menanamkan Mental Inovator Sejak Sekolah Dasar Bagi MIM Karan, keikutsertaan dalam kompetisi robotika tidak semata-mata mengejar gelar juara. Lebih dari itu, robotika menjadi sarana bagi siswa untuk belajar berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama dalam tim, serta membangun mental pantang menyerah ketika menghadapi kegagalan. Prestasi Juara III Robot Soccer dan pengalaman berharga di kategori MakeBlock menjadi bukti bahwa siswa sekolah dasar pun mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi jika diberikan kesempatan dan pendampingan yang tepat. Ke depan, MIM Karan berharap dapat terus mengembangkan program robotika dengan dukungan sarana yang lebih memadai sehingga semakin banyak siswa yang berani berinovasi, berkarya, dan mengharumkan nama sekolah melalui bidang sains dan teknologi.
Prestasi Membanggakan! Siswa MIM Karan Raih Juara di KEJURDA XX TSPM PIMDA 055 Karanganyar
Karanganyar – Kabar membanggakan kembali datang dari MI Muhammadiyah Karan (MIM Karan). Dua siswa berhasil menorehkan prestasi dalam ajang KEJURDA ke-XX Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) PIMDA 055 Karanganyar yang dilaksanakan pada Sabtu–Ahad, 10–11 Mei 2026. Ajang kejuaraan daerah tersebut menjadi wadah bagi para atlet muda Tapak Suci untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka, baik dalam kategori tanding maupun seni jurus. Dalam kompetisi ini, para peserta dituntut tidak hanya memiliki kemampuan teknik bela diri, tetapi juga kedisiplinan, keberanian, dan semangat juang yang tinggi. Salah satu prestasi diraih oleh Irsyad Khairul Anwaar, siswa kelas IV B, yang berhasil meraih Juara II Seni Jurus Katak Putra. Di balik penampilannya di arena, Irsyad dikenal sebagai siswa yang memiliki semangat tinggi dan pekerja keras dalam menjalani latihan. Selain itu, prestasi gemilang juga diraih oleh Destyan Revalina Putri, siswi kelas V, yang berhasil membawa pulang dua penghargaan sekaligus, yaitu: Bagi Destyan, Tapak Suci bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga hobi yang ia tekuni dengan penuh semangat. Ketekunan dalam latihan serta konsistensi yang dijaga selama ini membuahkan hasil yang membanggakan. Keberhasilan kedua siswa tersebut menjadi bukti bahwa siswa MIM Karan tidak hanya berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menunjukkan potensi dan prestasi di bidang nonakademik, khususnya olahraga bela diri Tapak Suci. Pihak sekolah memberikan apresiasi atas perjuangan dan kerja keras para siswa selama mengikuti proses latihan hingga pertandingan berlangsung. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus berani mencoba, disiplin dalam berlatih, dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Melalui berbagai kegiatan dan kompetisi, MIM Karan terus berkomitmen mendukung pengembangan karakter siswa melalui semangat sportivitas, kerja keras, dan pantang menyerah, sehingga lahir generasi yang berprestasi sekaligus berkarakter kuat.
Lima Kali Rekam Ulang dan Suara yang Tak Pernah Benar-Benar Sunyi
Suara itu sempat berhenti di tengah kalimat.Bukan karena lupa teks, tapi karena suara kendaraan yang tiba-tiba lewat, mengganggu rekaman yang sudah berjalan. Bukan sekali itu terjadi. Bagi Nilnal Muna Wafalhana, proses mengikuti lomba Khitobah Bahasa Arab dalam ajang Festival Dai Ramadhan Muhammadiyah (FESDAMU) 2026 bukan sekadar tentang berdiri dan berbicara di depan kamera. Di balik video yang akhirnya dikirim, ada proses yang harus diulang berkali-kali. Bahkan hingga lima kali perekaman di dua tempat berbeda. Tempat pertama dianggap kurang mendukung. Suara bising masih masuk, suasana belum terasa tepat. Berpindah lokasi menjadi pilihan, dengan harapan hasil yang lebih baik. Namun, di tempat kedua pun tantangan belum sepenuhnya hilang. Gangguan suara masih muncul, dan beberapa kali kesalahan teknis dalam proses editing membuat hasil rekaman harus diperbaiki kembali. Setiap kali rekaman diulang, bukan hanya tenaga yang terkuras, tetapi juga fokus dan kepercayaan diri yang harus terus dijaga. Namun dari situlah proses belajar sebenarnya terjadi. Di tengah segala keterbatasan, Muna tetap melanjutkan. Kalimat demi kalimat diperbaiki, ekspresi terus dilatih, dan keberanian dijaga agar tidak runtuh oleh kesalahan yang berulang. MIM Karan sendiri mengirimkan empat perwakilan dalam ajang tersebut. Selain Nilnal Muna Wafalhana di cabang Bahasa Arab, terdapat Reza Pamungkas Puspo Kusumo (Bahasa Inggris), Asyafa’ati Inayah (Bahasa Jawa), dan Fredilla Apriliani (Bahasa Indonesia). Dari keempatnya, baru cabang Bahasa Arab yang berhasil membawa pulang penghargaan. Hasilnya memang belum yang tertinggi.Namun proses yang dilalui jauh lebih dari sekadar angka peringkat. Ketika pengumuman hasil lomba keluar, yang terlihat bukan hanya posisi Juara Harapan 2, tetapi juga perjalanan panjang di belakangnya—rekaman yang diulang, suara yang harus diabaikan, dan usaha untuk tetap tampil maksimal di setiap kesempatan. “Belum yang terbaik, esok berusaha lagi.” Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk menggambarkan sikap yang terbentuk dari proses tersebut. Bahwa tidak semua usaha langsung berujung pada hasil terbaik.Bahwa terkadang, yang lebih penting adalah tetap melangkah meski belum sampai tujuan. Bagi MIM Karan, pengalaman ini bukan sekadar partisipasi lomba. Ini adalah bagian dari pembelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk mencoba kembali. Dan mungkin, di balik rekaman yang belum sempurna itu, justru lahir sesuatu yang lebih penting—sebuah keyakinan bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, selalu membawa langkah menuju versi diri yang lebih baik.
MIM Karan Awali Masuk Sekolah dengan Halal Bihalal dan Kegiatan Reflektif Pascaramadan
Karanganyar – Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti halaman MI Muhammadiyah Karan (MIM Karan) pada hari pertama masuk sekolah pasca Hari Raya Idulfitri 1447 H, Senin, 30 Maret 2026. Senyum, sapa, dan jabat tangan antar siswa dan guru menjadi pemandangan yang mengawali kembalinya aktivitas belajar setelah libur panjang Ramadan. Sebanyak seluruh siswa MIM Karan mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi pembuka tahun ajaran setelah libur, tetapi juga momentum untuk mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kembali nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama bulan Ramadan. Kegiatan hari pertama ini dirancang secara khusus oleh pihak sekolah agar tidak langsung berfokus pada pembelajaran akademik, melainkan diawali dengan penguatan karakter melalui kegiatan apel pagi, halal bihalal, serta aktivitas reflektif siswa. Rangkaian kegiatan dimulai dengan shalat dhuha berjamaah, yang kemudian dilanjutkan dengan apel pagi di halaman sekolah. Apel tersebut dirangkai dengan kegiatan halal bihalal, di mana seluruh siswa berbaris dan bersalaman dengan para guru dalam suasana penuh kekeluargaan. Dalam amanat apel, Kepala Madrasah MIM Karan, Irham B. Senoaji, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pesan penting kepada seluruh siswa terkait makna Idulfitri dan kehidupan pascaramadan. “Mohon maaf lahir dan batin. Puasa Ramadan telah mengajarkan kejujuran, maka mari kita jaga sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Syawal adalah bulan peningkatan, sehingga ibadah yang telah menjadi kebiasaan di bulan Ramadan harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan,” ujarnya. Setelah kegiatan apel dan halal bihalal, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan lanjutan. Kegiatan diawali dengan bersih-bersih kelas, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Selanjutnya, siswa melakukan pengumpulan buku kegiatan Ramadan kepada wali kelas. Buku tersebut berisi catatan aktivitas ibadah selama bulan Ramadan yang menjadi bagian dari pembiasaan kegiatan positif siswa. Kegiatan reflektif menjadi salah satu bagian yang menarik pada hari pertama ini. Siswa kelas 4, 5, dan 6 diminta untuk menuliskan pengalaman mereka selama Ramadan dan Idulfitri dalam bentuk cerita, sementara siswa kelas 1, 2, dan 3 mengekspresikan pengalaman mereka melalui gambar yang kreatif dan penuh warna. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diajak untuk mengingat kembali momen-momen bermakna selama Ramadan, tetapi juga melatih kemampuan literasi, kreativitas, serta keberanian dalam mengekspresikan diri. Rangkaian kegiatan ditutup dengan waktu istirahat dan persiapan pulang, sebelum keesokan harinya kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal seperti biasa. Melalui kegiatan hari pertama ini, MIM Karan menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kejujuran, kepedulian, dan refleksi diri diharapkan dapat terus tertanam dan menjadi bagian dari kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Hobiku, Cita-Citaku
Penulis: Asyafa’ati Inayah | Kelas: 4B Di pagi yang cerah, Clara terbangun dengan semangat. “Huah…,” ia meregangkan tubuhnya.“Sudah bangun, Clara?” tanya Bunda dari dapur.“Sudah, Bunda,” jawab Clara sambil merapikan tempat tidurnya.“Kalau begitu, segera bereskan tempat tidurmu. Sarapanmu sudah Bunda taruh di meja, ya. Bunda mau ke pasar dulu, uang sakumu juga di meja.”“Baik, Bunda. Hati-hati di jalan,” ujar Clara sebelum bersiap mandi dan berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Clara menyapa riang, “Selamat pagi semua!”Roma dan Ara menjawab hampir bersamaan, “Selamat pagi, Clara!”Clara menoleh ke sekeliling, “Eh, Andre belum datang, ya?”“Belum,” kata Roma. “Yang datang baru kita bertiga.”Ara menambahkan, “Mungkin dia mampir ke rumah Aries dulu.” Tak lama kemudian, Bu Tasya datang dan menyapa murid-muridnya. “Selamat pagi, anak-anak.”“Selamat pagi, Bu Tasya,” jawab mereka serempak.Roma segera berkata, “Bu, Andre dan Aries belum datang.”“Oh iya,” jawab Bu Tasya, “ibu mereka sudah memberi tahu Ibu. Mereka tidak bisa masuk karena sedang mengikuti lomba memanah.” “Wah, jadi itu hobi mereka ya, Bu?” tanya Roma.“Iya, benar. Bagaimana dengan kalian, apa hobi kalian?” tanya Bu Tasya sambil tersenyum.Roma menjawab dengan semangat, “Saya suka bermain sepak bola, Bu!”“Aku hobinya melukis, Bu,” kata Ara. “Aku ingin menjadi pelukis terkenal suatu hari nanti.”“Kalau Clara?” tanya Bu Tasya. Clara berpikir sejenak lalu menjawab, “Hobiku membantu orang sakit, Bu.”“Memang cita-cita kamu apa, Clara?” tanya Bu Tasya lagi.“Cita-citaku ingin menjadi dokter, Bu.”Bu Tasya tersenyum lembut. “Sebenarnya, membantu orang sakit itu lebih cocok disebut perbuatan baik, bukan hobi. Tapi itu hal yang sangat mulia, Clara.”Clara mengangguk pelan. “Oh, begitu ya, Bu…” Roma lalu berseru sambil tertawa kecil, “Berarti Clara nggak punya hobi, dong? hahaha”Bu Tasya segera menegur, “Tidak boleh begitu, Roma. Kita harus saling menghargai teman, apa pun perbedaan mereka.”Roma pun menunduk malu. “Maaf ya, Clara, aku sudah mengejekmu.”Clara tersenyum. “Tidak apa-apa, Roma. Aku sudah memaafkanmu.” Setelah pelajaran selesai, Clara duduk di bawah pohon di halaman sekolah sambil berpikir. Ia tersenyum kecil dan berkata dalam hati, “Mungkin aku belum tau apa hobiku, tapi aku tahu apa yang membuatku bahagia—membantu orang lain. Dan kalau aku terus belajar dengan sungguh-sungguh, suatu hari aku bisa jadi dokter dan menolong banyak orang.” Melihat Clara termenung, Ara dan Roma datang menghampiri. “Clara, ayo main kasti bareng!” ajak Roma.Clara tertawa, “Boleh juga! Siapa tahu nanti hobiku jadi olahraga juga.”Mereka pun bermain bersama sambil tertawa gembira. Hari itu, Clara belajar bahwa setiap orang memiliki hobi dan cita-cita masing-masing, dan semuanya berharga selama dilakukan dengan hati yang baik.
MIM Karan Tingkatkan Budaya Literasi Lewat Program “Ujung Pena”
Karanganyar — MI Muhammadiyah Karan terus berupaya menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik, para siswa diajak untuk menuangkan gagasan dan imajinasi mereka dalam bentuk karya tulis berupa cerita pendek dan puisi. Program ini berawal dari ditemukannya sejumlah siswa yang memiliki minat besar dalam menulis, namun belum memiliki wadah untuk menyalurkan dan mengapresiasi karya mereka. Menjawab kebutuhan tersebut, tim ekstrakurikuler jurnalistik MIM Karan meluncurkan program “Ujung Pena”, sebuah media apresiasi karya tulis siswa yang dipublikasikan secara rutin. Dalam program ini, seluruh siswa diberi kesempatan untuk mengirimkan karya tulis mereka kepada tim jurnalistik. Karya-karya terpilih kemudian dipajang di majalah dinding (mading) sekolah agar dapat dibaca oleh seluruh warga sekolah. “Ujung Pena” dirilis secara berkala setiap satu pekan sekali. Antusiasme siswa terhadap program ini terbilang tinggi. Banyak siswa dari berbagai jenjang kelas mengirimkan karya mereka secara rutin. Bahkan, tim jurnalistik mengungkapkan bahwa stok cerita pendek yang masuk saat ini telah mencukupi untuk publikasi hingga dua bulan ke depan. Selain publikasi, sekolah juga memberikan bentuk apresiasi nyata kepada para siswa yang karyanya terpilih. Setiap siswa memperoleh voucher senilai Rp5.000 yang dapat digunakan di koperasi sekolah. Meski sederhana, apresiasi ini memberikan motivasi besar bagi para siswa. Pembina ekstrakurikuler jurnalistik MIM Karan mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga membuka ruang dialog yang menyentuh. “Saat saya menjelaskan penggunaan voucher, ada banyak pertanyaan dari siswa. Namun satu pertanyaan benar-benar membuat saya terenyuh, ketika seorang siswa kelas 4 bertanya: ‘Pak Guru, apakah voucher ini bisa dipakai untuk membayar SPP?’ Di usia tersebut, mereka sudah berpikir sejauh itu,” ungkapnya. Kepala MIM Karan, Irham Burhaniami Senoaji, S.Pd., M.Pd., yang baru saja dilantik kembali pada 27 Januari 2026 untuk masa jabatan kedua, menyambut baik program ini. “Ini merupakan langkah yang sangat bagus untuk melatih anak-anak berkarya. Jika ke depan karya yang terkumpul semakin banyak, kami berencana membukukannya. Harapannya, tidak hanya siswa, tetapi para guru juga ikut berkarya melalui goresan pena mereka,” tuturnya. Pihak sekolah menyadari bahwa karya para siswa masih jauh dari kata sempurna. Namun, MIM Karan berkomitmen untuk terus membimbing, meningkatkan kualitas tulisan, serta menjaga semangat dan keberanian siswa dalam berkarya.
Ramadhan Camp MIM Karan: Belajar Ibadah, Kemandirian dan Kebersamaan di Bawah Tenda
Karanganyar – Suasana berbeda terlihat di halaman MI Muhammadiyah Karan (MIM Karan) pada Jumat–Sabtu, 13–14 Maret 2026. Puluhan tenda berdiri rapi, sementara para siswa tampak sibuk mengikuti berbagai kegiatan. Ratusan murid mengikuti kegiatan Ramadhan Camp 1447 H, sebuah program pembelajaran Ramadan yang dirancang lebih aplikatif dibandingkan pesantren kilat pada umumnya. Berbeda dengan kegiatan pesantren kilat yang biasanya berlangsung di dalam kelas dengan metode ceramah, Ramadhan Camp MIM Karan mengusung konsep pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Para siswa tidak hanya mempelajari materi keagamaan secara teori, tetapi juga menjalani langsung berbagai aktivitas ibadah, kebersamaan, dan kemandirian selama dua hari satu malam. Kegiatan diawali dengan apel pembukaan yang dilanjutkan dengan pemasangan tenda di halaman sekolah. Para siswa dilibatkan langsung dalam proses mendirikan tenda sebagai bagian dari pembelajaran kerja sama, tanggung jawab, serta kemandirian. Setelah itu para peserta melaksanakan shalat dhuha berjamaah dan murojaah Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan halaqah atau pembinaan dalam kelompok kecil yang membahas bacaan shalat. Dalam sesi ini para siswa dibimbing secara langsung oleh guru pendamping sehingga suasana belajar menjadi lebih interaktif dan mendalam. Selain materi ibadah, para siswa juga mendapatkan pembelajaran praktis dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui praktik memakai sarung dengan benar bagi siswa laki-laki. Kegiatan sederhana ini menjadi bagian dari upaya membiasakan nilai-nilai keislaman dalam aktivitas sehari-hari. Pada siang hari peserta mengikuti kegiatan qailullah, yaitu istirahat sejenak yang merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan dalam Islam. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan perhitungan IRAMA (Infaq Ceria Ramadhan) yang sudah menjadi rutinitas tahunan MIM Karan selama bulan suci Ramadhan. Melalui kegiatan ini, para siswa diajak belajar tentang pentingnya berbagi serta menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama. Menjelang sore hari, seluruh peserta melaksanakan shalat Ashar berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan halaqah doa dan hadis untuk memperdalam pemahaman siswa mengenai nilai-nilai Islam. Suasana semakin hangat menjelang waktu berbuka puasa. Sembari menunggu azan Maghrib, para siswa mengikuti kegiatan mendongeng bersama Kak Sutris. Dengan gaya penyampaian yang jenaka dan komunikatif, Kak Sutris berhasil menghidupkan suasana. Tawa para siswa beberapa kali pecah, namun cerita yang disampaikan tetap sarat dengan pesan moral dan nilai-nilai kebaikan. Setelah waktu berbuka tiba, kegiatan dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah, kemudian tadarusAl-Qur’an, serta shalat Isya dan Tarawih. Kegiatan malam hari diisi dengan barbecue sederhana dan pentas kreasi seni siswa. Dalam kegiatan tersebut para siswa menampilkan berbagai bakat seperti membaca puisi, tilawah, maupun penampilan kreatif lainnya. Momen ini menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mempererat kebersamaan antarsiswa. Memasuki dini hari, para peserta mengikuti kegiatan tadabbur alam, yang mengajak siswa merenungi kebesaran Allah melalui lingkungan sekitar. Kegiatan ini dilanjutkan dengan sahur bersama, kemudian shalat Subuh berjamaah dan tausiyah. Pada pagi hari kegiatan ditutup dengan senam sehat, sebelum para siswa bersama guru melakukan pembongkaran tenda sebagai bentuk tanggung jawab atas kegiatan yang telah dilaksanakan. Melalui kegiatan Ramadhan Camp ini, MIM Karan berharap para siswa tidak hanya mendapatkan tambahan pengetahuan tentang ajaran Islam, tetapi juga memperoleh pengalaman spiritual yang berkesan selama bulan suci Ramadhan. Dengan memadukan unsur ibadah, pendidikan karakter, kegiatan alam, serta kreativitas, Ramadhan Camp menjadi salah satu upaya sekolah dalam menghadirkan pembelajaran Ramadan yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi para siswa.