Suara itu sempat berhenti di tengah kalimat.Bukan karena lupa teks, tapi karena suara kendaraan yang tiba-tiba lewat, mengganggu rekaman yang sudah berjalan. Bukan sekali itu terjadi. Bagi Nilnal Muna Wafalhana, proses mengikuti lomba Khitobah Bahasa Arab dalam ajang Festival Dai Ramadhan Muhammadiyah (FESDAMU) 2026 bukan sekadar tentang berdiri dan berbicara di depan kamera. Di balik video yang akhirnya dikirim, ada proses yang harus diulang berkali-kali. Bahkan hingga lima kali perekaman di dua tempat berbeda. Tempat pertama dianggap kurang mendukung. Suara bising masih masuk, suasana belum terasa tepat. Berpindah lokasi menjadi pilihan, dengan harapan hasil yang lebih baik. Namun, di tempat kedua pun tantangan belum sepenuhnya hilang. Gangguan suara masih muncul, dan beberapa kali kesalahan teknis dalam proses editing membuat hasil rekaman harus diperbaiki kembali. Setiap kali rekaman diulang, bukan hanya tenaga yang terkuras, tetapi juga fokus dan kepercayaan diri yang harus terus dijaga. Namun dari situlah proses belajar sebenarnya terjadi. Di tengah segala keterbatasan, Muna tetap melanjutkan. Kalimat demi kalimat diperbaiki, ekspresi terus dilatih, dan keberanian dijaga agar tidak runtuh oleh kesalahan yang berulang. MIM Karan sendiri mengirimkan empat perwakilan dalam ajang tersebut. Selain Nilnal Muna Wafalhana di cabang Bahasa Arab, terdapat Reza Pamungkas Puspo Kusumo (Bahasa Inggris), Asyafa’ati Inayah (Bahasa Jawa), dan Fredilla Apriliani (Bahasa Indonesia). Dari keempatnya, baru cabang Bahasa Arab yang berhasil membawa pulang penghargaan. Hasilnya memang belum yang tertinggi.Namun proses yang dilalui jauh lebih dari sekadar angka peringkat. Ketika pengumuman hasil lomba keluar, yang terlihat bukan hanya posisi Juara Harapan 2, tetapi juga perjalanan panjang di belakangnya—rekaman yang diulang, suara yang harus diabaikan, dan usaha untuk tetap tampil maksimal di setiap kesempatan. “Belum yang terbaik, esok berusaha lagi.” Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk menggambarkan sikap yang terbentuk dari proses tersebut. Bahwa tidak semua usaha langsung berujung pada hasil terbaik.Bahwa terkadang, yang lebih penting adalah tetap melangkah meski belum sampai tujuan. Bagi MIM Karan, pengalaman ini bukan sekadar partisipasi lomba. Ini adalah bagian dari pembelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk mencoba kembali. Dan mungkin, di balik rekaman yang belum sempurna itu, justru lahir sesuatu yang lebih penting—sebuah keyakinan bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, selalu membawa langkah menuju versi diri yang lebih baik.